TERPISAHNYA 2 SAUDARA
Pagi yang
cerah.Terdengar suara burung yang terbang kesana-kemari.Tapi suasana di desa ku
masih sepi.Belum ada warga yang terlihat keluar rumah untuk sekedar menyambut
datang nya pagi.Hanya keluargaku dan keluaraga tetangga sebelah yang sudah
mulai melakukan aktivitas pagi.Mungkin waraga yang lain masih merasakan
dinginnya hujan tadi malam.Jadi mereka
malas untuk keluar rumah.
Hari minggu
pagi ayah mengajakku ke kota.Bukan untuk bersenang-senang ataupun yang lain.Hanya
menemani ayah menyelesaikan tugas kantornya.kira-kira pukul 08.00 aku dan ayah
berangkat.Sebelumnya aku sempat minta izin ke ibu,tapi ibu tidak
mengizinkan.Ibu menyuruhku untuk tetap di rumah,mengingat pekerjaan rumah yang
sering menumpuk terutama saat pagi hari.Tapi aku berusaha membujuk ibu.Akhirnya
dengan sedikit berat hati ibu memperbolehkanku untuk ikut ayah ke kota.Itupun
dengan satu syarat minimal di sana hanya
satu minggu.
2 jam sudah
aku dan ayah melewati jalan yang selalu ramai dengan kendaraan-kendaraan
besar.Tepatnya pukul 10.10 mobil ayah berhenti di depan rumah yang lumayan
berukuran kecil.Namun dengan bentuk dan warna yang unik,menjadikan rumah tersebut
mempunyai nilai lebih.Kata ayah itu adalah kontrakan yang akan ditempati selama
satu minggu ke depan
Cuacanya
sangat panas,tidak ada angin yang berhembus.Mungkin ini yang membedakan dengan
suasana di desa.Tiap hari aku harus selalu menghidupkan AC. Aku jadi ingat satu
cerita dari ibu, katanya besok di hari
kiamat matahari akan diturunkan dekat dengan kepala manusia.Ya Tuhan aku tidak
bisa membayangkan seperti apa panasnya.Mungkin panas di kota ini tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan panas matahari besok.Hal inilah yang membuatku
bertanya-tanya,mengapa dengan keadaanyang seperti ini bukannya membuatku tidak
betah,malah membuatku merasa semakin nyaman.
Dret….dret….handphone
ayah bergetar.Ada suara panggilan masuk.Aku segera lari menuju ruang depan.Di
sana ayah sedang sibuk merapikan isi koper yang nantinya akan dibawa
pulang.Sialnya,belum sampai ruang depan panggilan sudah berakhir.Aku tidak jadi
menyerahkan handphone ke ayah.Aku memutar badanku melangkah menuju shofa untuk
melanjutkan bermain game.Lagi-lagi belum sampai finish game ku harus ter-cancel
dengan adanya panggilan masuk yang ke-2.Mungkin ini dari orang yang sama. Belum
sempat aku melangkahkan kaki,ayah sudah berdiri didepanku dengan kemeja
putihnya.Aku segera menyerahkan handphone yang sejak tadi aku pegang untuk
bermain game
Hampir 5 menit ayah menerima panggilan tadi.Tidak tahu
kenapa setelah mematikan handphone raut muka ayah menjadi kusut.Aku sempat
khawatir.Pikiranku melayang kemana-mana.Tiba-tiba aku teringat dengan anggota
keluargaku yang ada di kampung,termasuk ibu dan adikku. Satu minggu ini tidak
ada kabar dari mereka.”jangan-jangan………..”Hampir saja aku menjerit,tapi ayah
lebih dulu menahan agar suaraku tidak keluar.Ayah memanggil namaku
perlahan.Sebelumnya ayah meminta maaf kepadaku, kemudian ayah bercerita sedikit
tentang siapa yang tadi menelpon.Ternyata tadi adalah manager ayah.Ayah diminta
menemaninya untuk melakukan contact kerja dengan perusahaan lain.Hal itulah
yang membuat ayah sedih,sebenarnya ayah ingin menolak ajakan tersebut,mengingat
pesan ibu yang hanya memperbolehkan di kota selama satu minggu.Karena hal
itulah tentunya aku dan ayah tidak jadi pulang,bahkan harus tinggal di kota
lebih lama lagi
Ku hirup udara segar .kemudian mengeluarkan nya perlahan-lahan
.lega rasanya .ku pandangi jalan raya depan kontrakan ku .walau pun sang
mentari masih malu-malu memperlihat kan senyumannya, namun orang-orang sudah
berlalu lalang memenuhi jalan. Para pekerja kantor sudah rapi dengan baju masuk
nya ,para pedagang sudah siap menjajakan dagangan nya.begitu pun para pelajar
.mereka kelihatan rapid an sudah siap menerima berbagai pelajaran dari sekolah
masing-masing.
Liburan panjang telah usai.kemarin seharus nya aku sudah
mulai aktif KBM.tapi kondisi tidak mendukung.aku tidak berada dikota ku sendiri
.untuk 3 bulan ini , sementara aku tidak bisa sekolah.kalau pun bisa mungkin
aku harus mencari sekolah baru.
Hari yang tidak pernah ku duga. Pagi-pagi ayah menyuruh
ku segara mandi .tidak seperti biasa nya .ku turuti sja perintah ayah .”pasti
ayah akan mengajak ku jalan-jalan .”kata ku dalam hati.
Ayah menyuruh ku memakai seragam yang baru di beli
kemarin siang.”masak jalan-jalan pakai seragam?”gerutu ku dalam hati lgi.”apa
mungkin akan daftar sekolah ?”piker ku sambil menggaruk-garuk kepala.
Ya benar.ternyata ayah akan mendaftar kan aku ke sekolah
baru.mungkin ayah merasa kasihan dengan ku.tiap hari aku hanya makan
tidur.itulah aktivitas ku semenjak aku ikut ayah ke kota.dan mulai saat itu lh
aku masuk sekolah baru dikota .
Kupandngi jam berwarna putih yang menempel di tangan kiri
ku.ternyata jam 8 tepat .aku dan ayah langsung masuk ke area sekolah ,karena
kebetulan gerbang masih terbuka .baru beberapa langkah ,kami harus berhenti
dengan tiba-tiba ada suara yang memanggil kami dari belakang.aku dan ayah
segera melihat ke sumber suara .ternyata tadi adalah suara pak satpam .sebelum
menanyakan banyak hal ,satpam lebih dulu berjabat tangan dengan ayah ku.ku
lihat satpam tadi sangat ramah .tanpa basa-basi ayah langsung bercerita sedikit
tentang kedatangan kami.
Pak stpam segera mengantarkan kami menuju kantor
kepsek.”assalamualaikum………..”.ucap satpam sambil mengetuk pintu .”wa’alaikum
salam……”tiba-tiba suara itu terdengar dari dalam .
Setelah memgetahui kedatangan kami pak kepsek langsung
mengantarkan aku menuju ruang kelasyang terletak di sebelah barat ruang
BK.rupanya didalam seorang guru yang sedang mengajar maple B.INGGRIS.aku
dipersilahkan bu ratna untuk memperkenalkan diri.buratna adalah guru pengmpu
mapel B.INGGRIS.jadi aku disuruh perkenalan menggunakan B.INGGRIS.
“I will introduce my self.My name is……….”.Aku mulai
memperkenalkan diri.Seluruh isi ruangan terlihat serius menyimak apa yang aku
ucapkan.Lagi-lagi cowok yang duduk di bangku paling depan selalu memberiku
pertanyaan yang aneh-aneh,tapi semuanya bisa ku jawab dengan baik.
Teeettttttt…………
Waktu pulang tiba.Tapi ayahku belum juga terlihat.Aku
terpaksa menunggu dibawah pohon beringin yang terletak
di depan gerbang.”Duluan ya,,,,,,,,,,” sapa salah seorang temanku sambil
tersenyum.”ya,,,,,,,hati-hati,,,,,jawabku sambil membalas senyumannya.
Langit tiba-tiba mendung.Kemudian hujan deras
menyusulnya.Kupandangi jalan raya.Masih seperti tadi.Mobil ayah belum juga
terlihat.Dengan terpaksa aku lari sekencang-kencangnya di tengah derasnya hujan
untuk mengejar bus yang hampir berjalan.Walaupun berdesak-desakan aku rela
untuk berdiri,yang penting aku bisa sampai ke kontrakanku.Bajuku basah
kuyup.Mungkin buku-buku yang ada di dalam tasku juga ikut basah.Tapi bagiku itu
tidak jadi masalah.
Aku tidak tahu mengapa aku begitu saja memasuki bus yang
jelas-jelas bukan jurusan ke kontrakanku.Aku terlanjur turun di daerah yang
asing bagiku.Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.Hp ku hilang dan sepeser
uang pun tidak ada yang tertinggal di saku seragamku.Hanya kalung liontinlah
satu-satunya barang berhargaku.Itupun pemberian ayahku sejak aku masih bayi dan
harus ku jaga baik-baik sampai aku tua nanti.Ku telusuri jalan setapak demi
setapak sambil meratapi nasib.Ku pegang perutku yang sudah lama berbunyi.Tidak
sedikit orang yang melihatku dengan tatapan kasihan.
“Brak………..”tiba-tiba suara itu terdengar dari belakangku
“Ya ampun……”aku segera lari dan berusaha
menolongnya.Ternyata anak kelas IV SD terserempet mobil.Darah dari kaki kirinya
terus mengalir.”Sakit…..sakit…….”anak itu menangis sambil memegangi kakinya
yang penuh darah.Aku segera membawa anak itu ke rumah warga setempat untuk
minta pertolongan.Ku usap darah yang masih menempel di kaki kirinya dengan
kapas pemberian warga.Tapi itu tidak cukup,banyak warga yang menyarankan aku untuk segera
membawa anak itu ke rumah sakit terdekat,sebelum sesuatu yang tidak diinginkan
terjadi.Mungkin mereka menganggap bahwa anak itu adalah adikku,karena beberapa
warga bilang wajahku tidak jaub berbeda dengan wajah anak itu.Dengan bekal
Rp.50.000 pemberian warga,aku bertekat membawa anak tadi ke rumah sakit
walaupun aku tahu biaya rumah sakit tidaklah murah.Tapi aku bersedia menanggung
berapapun biaya yang akan aku keluarkan.Bagiku kesehatan lebih utama dari pada
uang.
“Tuhan…….liontin itu…..”Aku sempat kaget ketika membuka
jilbab anak kecil itu.Liontinnya sama persis dengan milikku.Hanya saja yang
membedakan adalah satu huruf balok antara “A” dan “I”,biasanya itu adalah huruf
inisial dari nama pemiliknya.”Apa mungkin yang dikatakan warga benar?”pikirku
sambil melihat wajah anak itu.Semuanya serba sama.Kalau wajah yang mirip aku
bisa menerima,karena mungkin itu salah satu kembaranku di dunia.Tapi kalau liontin,tidak
bisa ku pungkiri lagi.Yang punya liontin dengan inisial huruf “I”adalah adikku.
“Mbak……”
“Eh…iya,,,, ada apa,,,,,,”.Lamunanku sempat terhenti saat
seorang dokter memanggilku.Aku disuruh ke tempat administrasi.”Ini mbak……”kata
receptionis sambil menyerahkan selembar
kertas bertuliskan Rp.300.000.Ku rogoh uang di saku belakangku sisa pembayaran
angkot.Lembar demi lembar kuhitung dengan teliti,dan ternyata hanya tersisih
Rp.40.000.Aku mencoba merayu agar receptionis member waktu untuk membayar administrasi.Aku
segera lari untuk menggadaikan liontin pemberian ayah.Aku terpaksa
menggadaikannya untuk biaya rumah sakit anak malang itu.Dan aku berjanji akan
mengambilnya lagi.
“Kak……….sebenarnya kaka ini siapa?kok sampai sebaik ini
sama aku”Tanya anak malang itu kepadaku.Aku segera memperkenalkan diriku dan
menceritakan sedikit tentang sejarah hidupku.Setelah itu giliranku menanyakan
tentang dirinya.
Ternyata anak malang itu tinggal dip anti asuhan.Ia tidak
tahu siapa oran tuanya,dan di mana ia dilahirkan.Ia hanya mendapat dua barang
peninggalan yang menurutnya sangat berharga dari orang yang membawanya pertama
kali ke panti asuhan,yaitu liontin dan sepucuk surat.Lagi-lagi aku kaget
mendengarnya.Ternyata liontin yang sama persis dengan milikku juga peninggalan
dari orang tuanya.”Kak……coba kakak baca ini”Anak malang itu menyuruhku membaca satu lembar surat yang baru saja
dirogoh dari sakunya.”Setelah membaca surat itu ku harap kakak mau membantuku
mencari alamat tersebut.Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang
tuaku”Kata anak malang itu sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.Belum
selesai surat itu kubaca,air mataku sudah jatuh berlinangan.Aku tidak sanggup
melanjutkan membacanya lagi.Surat itu menceritakan bahwasanya ibu anak malang itu
sebenarnya tidak ingin melihat anaknya dibesarkan di panti asuhan.Ibunya terpaksa karena ada
sedikit permasalahan di dalam keluarga.Di dalam surat itu menyebutkan bahwa
karena ayahnya lah yang mengharuskan ia dibawa ke panti asuhan.Waktu itu
ayahnya pergi kerja keluar kota.Tapi hingga setengah tahun tidak ada kabar.Si
ibu tidak tega melihat penyakit anak malang itu yang semakin hari semakin
memburuk,karena tidak ada biaya untuk berobat.Dengan terpaksa ia mengirim
anaknya ke panti asuhan.Di pertengahan surat itu juga ada denah rumah yang
harus anak msalang itu datangi kelak ia besar.Dan anak itu menyuruhku untuk menulusuri denah itu.
Sepertinya aku tidak asing dengan jalan yang ku lalui
menuju suatu rumah yang terletak di denah itu.”Ya tuhan,,,,,,ini sama dengan
jalan menuju rumahku dulu,,,,,”.
“Nenek,,,,,,,,”Aku lari memeluk perempuan tua yang
mukanya tidak asing bagiku.Entah keajaiban apa yang Tuhan berikan kepadaku.Aku
bisa kembali ke kampung halamanku.Belum puas aku memeluk nenek,namun nenek
lebih dulu melepaskannya.Nenek mengelus-ngelus kepalaku kwemudian bercerita
sedikit tentang keluargaku.Kata nenek dua tahun yang lalu ibuku sempat pergi
membawa adikku yang masih kecil.Entah kemana perginya nenek tidak tahu.Ibu rela
melakukan itu karena ayahku lah penyebabnya.Setelah ayah ke kota,ia tidak
pernah memeberi kabar ibuku.
Hari demi hari penderitaan ku semakin
bertambah.Ayab,ibu,adik,semuanya tidak ada di sampingku.Hanya neneklah
satu-satunya teman hidupku.”Itu kertas apa,,,,?Nenek menunjuk kertas yang aku
pegang.Aku segera menceritakan semuanya tentang kertas yang aku bawa dan siapa
pemiliknya.Mendengar cerutaku,nenek langsung menyuruhku membawa anak malang itu
ke rumahku.Nenek yakin bahwa itulah adikku.
BY:
S.ASRI.AMINATUN
**-------------------------------------------**



kacian bgt ya ,, sdih ,,
BalasHapus